herusantoso

Jawa-Bukittinggi

In Personal on July 31, 2008 at 1:34 pm

Judul ini ada kisahnya sendiri. Saya lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, sebelum Subuh April 1987. Tapi terlahir bukan sebagai orang Minang seandainya kesukuan itu ditentukan oleh darah bukan tanah kelahiran. Orang tua dari Jawa. Makanya saya bernama seperti sekarang ini, Heru Santoso. Jawa tho? Orang tua asli Wonogiri dua-duanya. Lebih tepatnya kecamatan Purwantoro, desa Sendang. Kalau kesana orang sedesa tahu dengan Mbah Men, wah saya cucunya!

Bagi saya kecil sebenarnya tidak ada yang perlu diributkan waktu itu, ra ngerti opo-opo. Lingkungan serba Jawa, sebuah komunitas Jawa kecil di Bukittinggi, mungkin mirip Little Italy di New York. Saya bisa bicara Jawa karena lingkungan memang dikondisikan seperti itu. Semua orang kiri-kanan ngomong Jawa, mosok saya ndak bisa. Walaupun ngoko tapi cukuplah. Pa’e selalu mengajarkan tentang identitas Jawa, sesuatu yang harus saya bangga, dan karena ini itu kelebihan budaya kita dari budaya lain, saya memang terdoktrin bangga juga akhirnya. Beliau masih Jawa asli, selalu ngomong Jawa di rumah. Pakde Man (kakaknya Pa’e) kadang ngomong Minang sama anaknya di rumah. Beliau tidak. Kalau makan, wuih, masih pakai teknik kuliner Jawa asli, pake dudhoh (kuah), kalau sudah selesai selalu bilang “Aku mangan seger tenan!”. Lho makan pake nasi, iwak goreng plus sambal kok seger? Teori dari mana itu? Tapi ya begitulah.

Anak-anak Jawa di Bukittinggi (generasi kedua, kelahiran asli Bukittinggi) mostly masih bisa ngomong Jawa ngoko, kalau ketemu masih sapa-menyapa pakai bahasa Jawa. “Iyo Pakde arep dolan nyang pasar, iki ngeterne anakku nyang sekolah…” bla bla bla ya kurang lebih seperti itu. Kalau yang tua-tua ngomong pake boso alus, cuma bisa manggut-manggut ngerti (kadang tidak juga) tapi susah ngomongnya. Soalnya mesti pake tata krama ini itu, terlalu repot buat anak Sumatera. Yang disebut ngoko tadi itupun masih belum menggambarkan bahasanya anak Jawa Bukittinggi. Soalnya mereka (ya saya juga tentunya) suka bicara pake tambahan ‘do’ misalnya yang tak tercetak di Kamus Besar Boso Jawi. Jadi sering berucap “Ra ngerti aku do!”. Lho ‘do’ itu kan punyanya cucu Datuak Parpatiah Nan Sabatang? Kadang juga lebih akrab dengan kata ‘panakuik’ dari pada ‘wedhen’ untuk menjelaskan penakut. Aneh memang.

Tradisi atau kebiasaan Jawa masih terpelihara cukup baik walaupun hidup di negeri orang untuk mereka generasi pertama, ya Pa’e Ma’e itu. Misalnya ada yang sakit, terus ada yang dituakan disuruh datang ke rumah, mendoakan atau semacamnya agar cepat sembuh atau apalah. Saya pribadi tidak suka hal-hal seperti itu. Atau kondangan ala Jawa apabila ada yang lahiran bayi atau sunatan. Yang ini sekedar merayakan dan berbagi kebahagiaan, bolehlah. Kalau pulang dibawakan berkat, yang isinya nasi plus takir berkomposisi nasi, sambel goreng, ayam rebus, kering (semacam tempe orek), kerupuk udang, dan juga buncis rebus. Khas sekali. Sangat Njawani. Kalau kebiasaan yang semacam ini sepertinya sampai generasi kedua akan masih terpelihara. Tapi jujur, anak-anak Jawa itu (lagi-lagi saya juga tentunya), dalam beberapa hal suka berontak tentang kebiasaan-kebiasaan yang aneh atau tidak praktis walaupun tidak diungkapkan ke orang-orang tua. Misalnya semacam acara bakar menyan saat besok mau Idul Fitri, itu lebih aneh lagi! Serius! Di rumah dulu ada ritual seperti itu, tapi sekarang tidak lagi. Degradasi, tergerusnya mentalitas dan kejiwaan Jawa, itu pasti ada dan sedang terjadi, seumumnya kelompok orang-orang yang hidup di rantau. Saya sendiri, kini sekedar bangga sebagai seorang Jawa, disebut Jawa, merasa Jawa, meskipun (jujur) dalam banyak hal lain lebih sreg dengan budaya Minang. Pola pikir Minang, makanan Minang, gadis Minang. Hal yang sama juga saya yakin terjadi pada anak-anak Jawa lain. Suatu waktu mungkin anak cucu mereka cukup tahu punya akar Jawa, nenek moyang tinggal di lereng Merapi atau Merbabu, tapi tidak lagi memiliki jiwa Jawa, ataupun sekedar berbicara Jawa-pun tidak. Mau apa lagi?

Interaksi dengan masyarakat asli bukanlah masalah. Mereka orang baik dan punya budaya yang menyenangkan, dan lebih enak lagi, tidak suka bermulut terlalu manis seperti orang Jawa yang kadang banyak pura-puranya. Saya tidak sempat bertanya pada orang tua tentang bagaimana pengalaman awal mereka saat sampai di Bukittinggi. Saya sendiri merasa semuanya baik, atau mungkin terlalu baik. Saya berbicara Minang fasih atau sangat fasih, tanpa embel–embel logat Jawa. Yang aneh justru mungkin bagi teman-teman yang kadang menyempatkan diri, sesekali berkunjung datang ke rumah. Heran karena di rumah saya jadi orang lain yang bertutur dengan bahasa berbeda. Atau kadang diajak makan, heran dengan menu yang belum pernah dilihat sebelumnya, bothok, oseng-oseng, tahu bacem, atau sambel goreng.

Saya pribadi bersyukur juga terlahir sebagai Jawa di negeri orang. Berbeda dari kebanyakan orang membuat anda menghargai perbedaan yang ada itu. Mungkin juga apa yang dirasakan orang-orang Tionghoa di negeri tropika kita ini. Menghargai karena bisa melihat langsung dan membanding. Apa yang baik dari budaya kita serta apa yang lebih unggul dari budaya orang lain. Tidak sempit atau picik, mendewakan budaya sendiri dan mengangapnya paling superior.

  1. sayangnya ga banyak ada rekan yang mau membuka diri seperti anda bung heru. masih banyak yang mengira papua warisan nenek moyangnya.

    salam,
    soedra

  2. klo gw seneng pas nrima berkatnya tuh… he..he..

  3. @holden
    mgkn juga mas. masalahnya hal-hal seperti ini memang agak sensitif.

    @Masenchipz
    saya juga seneng mas, waktu masih kecil sering nungguin ampe malem-malem. kalo ga dibawain suka nesu, hehe.

  4. [...] League, my first try after Fajar persuaded me to have a blog. Not satisfied, I wrote another post, Jawa-Bukitinggi (Bukittinggi’s Javanese), speaking of my own experience as a Minangese land born Javanese. [...]